Menjelang Tahun Politik, MUI Gulirkan Sembilan Kesepakatan Ukhuwah Islamiyah - .

Breaking

Rabu, 27 Juli 2022

Menjelang Tahun Politik, MUI Gulirkan Sembilan Kesepakatan Ukhuwah Islamiyah


AENEWS9.COM|Jakarta
, - Bangsa Indonesia akan segera melaksanakan Pemilihan Umum pada 2024 dan KPU sudah memulai tahapan Pemilu. Pemilu adalah hajat Bangsa dan sangat penting menentukan masa depan Indonesia. Melalui Pemilu akan dipilih Pemimpin negeri baik di eksekutif dan legislatif. 


Namun dalam prakteknya serangkali pemilu menghasilkan pembelahan dimasyarakat sampai level "grassroot" yang dapat menghambat kemajuan bangsa. Untuk itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai payung bagi umat Islam dalam rangka Milad ke 47  (26/7/2022) menggelar agenda Focus Group Discussion (FGD) bersama ormas Islam dengan tema "Merajut Kesatuan dan Kekuatan Umat Dalam Kebhinekaan'. 


Bertempat di Hotel Sultan Jakarta, dan Hadir sebagai Pemantik Diskusi yaitu KH Marsudi Suhud (Wakil Ketua MUI);  KH M. Cholil Nafis (Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah), KH Buya Adnan Harahap (Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyaj) dan KH Arif Fachrudi (Wasekjend Bidang Dakwah dan Ukhuwah). 


Selanjutnya menyambut tahun politik, MUI dan Ormas Islam menyampaikan 9 kesepakatan Ukhuwah Islamiyah 


Al-Mitsaq Al Ukhuwah


وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءًۭ فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًۭا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍۢ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Surat Ali-Imran (3) Ayat 103)


1. Seluruh Umat Islam berkomitmen merawat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah insaniyah, ukhuwah wathoniyah.


2. Bahwa seiring dengan sudah dimulainya tahapan Pemilu 2024, dan makin maraknya deklarasi dukungan terhadap para bakal calon (Presiden) dengan menggunakan berbagai narasi dan diksi yang cenderung saling mendiskreditkan pihak yang dipandang sebagai "lawan", bahkan disinyalir menggunakan buzzer, maka diperlukan upaya untuk mengantisipasi berbagai kerawanan dan kecenderungan ke arah konflik, agar persatuan dan kesatuan ummat atau ukhuwwah tetap terjaga.


3. Setiap politisi muslim memahami politik sebagai salah satu cara dakwah mulia yang merupakan bagian dari beribadah kepada Allah SWT dengan tujuan menghadirkan Negara Indonesia “Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur” berdasarkan pancasila dan UUD 1945.


4. Setiap Politisi Muslim mengedepankan politik ide, gagasan, program yang solutif bagi masalah umat serta menghindari politisasi identitas (SARA) dan politik uang dalam praktik politiknya.


5. Setiap politisi muslim hendaknya menghindari politisasi ormas dan lembaga keagamaan Islam demi kepentingan politik praktis agar tetap terjaga Ukhuwah Islamiyah serta keutuhan ormas dan lembaga keagamaan Islam.


6. Pimpinan ormas Islam mendidik masyarakat menjadi pemilih muslim  yang independen, cerdas mengetahui hak dan kewajiban sebagai warga negara sehingga mampu menjadi pengontrol kekuasaan dalam pemerintahan guna hadirnya NKRI yang sejahtera.


7. Ormas Islam memandang organisasi/lembaga Islam lainnya sebagai mitra perjuangan, karenanya dikembangkan budaya silaturahim, kerjasama dan perlombaan meraih kebaikan bukan budaya pertentangan, permusuhan, dan persaingan tidak sehat.


8. Ormas /Lembaga Islam menghindari konflik baik internal maupun eksternal yang dipicu oleh kontestasi politik dan diharapkan menjadi peredam konflik yang melibatkan anggota ormas/lembaga Islam.


9.Bahwa sebagai antisipasi dalam menghadapi berbagai persolalan, terkait dengan iklim politik yang mulai menghangat tersebut, Majelis Ulama Indonesis (MUI) meluncurkan Pedoman dan Bimbingan berupa Kode Etik, yang merupakan Panduan bagi  Politisi Muslim,  Ormas Islam maupun Pemilih Muslim.


lebih lanjut KH Cholil Nafis menyampaikan "Melalui kegiatan ini MUI siap mengawal Pemilu demi hadirnya demokrasi yang berkualitas menuju Indonesia yang maju dan sejahtera" tuturnya.