INFO TERKINI

ANGKUT PULUHAN LITER BBM, MOBIL BOKS TERBAKAR DI PEREMPATAN TUGU KOTA MADIUN

AENEWS9.COM MADIUN – Sebuah mobil box mengangkut puluhan liter BBM jenis Pertalite terbakar di Jl Pahlawan atau perempatan Tugu Kota Madiun, Selasa(31/1/2017) sekira pukul 14.20 WIB.

Zainudin sopir Box menuturkan awalnya dia membeli Pertalite untuk dibawanya ke Sleko, namun sesampainya di perempatan Tugu ada pengendara motor yang memberitahu kalau ada BBM yang menetes dari dalam mobilnya dan saat itu berbarengan traffic light menyala merah. Setelah itu Zainudin mencoba mengecek ke belakang dengan membuka pintu boxnya. Dan setelah di cek ternyata ada satu jerigen yang jatuh hingga BBMnya tumpah.

Melihat kondisi itu, Painah (53) ibunya Zainudin berinisiatif pindah ke dalam box sambil memegangi jerigen supaya tidak tumpah, Zainudin pun mengijinkan inisiatif ibunya itu.

Kemudian Zainudin kembali ingin melanjutkan perjalanan, namun sebelum menyalakan mesin, tiba-tiba terdengar ledakan dari bagian belakang mobilnya yang disertai keluarnya asap, spontan Zainudin lari ke belakang untuk menolong ibunya yang terjebak di dalam box.

Saat itu pintu box sudah panas karena terbakar dan Zainudin pun segera melepas bajunya lalu dililitkan ke tangannya untuk membuka pintu box.

Akhirnya warga sekitar ikut menolong Zainudin untuk mengeluarkan ibunya, dan kondisi ibunya saat itu sudah terbakar kaki, tangan  serta wajahnya. Kemudian Zainudin beserta ibunya dilarikan ke Rumah Sakit Detasemen Kesehatan Tentara (DKT) yang tak jauh dari lokasi kebakaran.

Api berhasil di padamkan setelah petugas pemadam kebakaran datang ke lokasi.

Ditanya tentang penyebab kebakaran, Zainudin tidak mengetahui secara pasti dan hanya memperkirakan munculnya api dari BBM yang tumpah.

Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, hanya saja mobil terbakar habis.


SERKA SLAMET SUBAGIYO ANGGOTA TNI AU ISWAHYUDI MENINGGAL

AENEWS9.COM MAGETAN – Serka Slamet Subagiyo anggota Zeni Lanud Iswahyudi yang beralamat di Rt08/03 Kelurahan Panekan, Kecamatan Panekan meninggal dunia.

Minggu(29/1/2017) almarhum di makamkan di pemakaman umum Desa setempat, almarhum meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Diketahui, almarhum menderita Asma dan meninggal di rumah.

Dalam pemakaman juga dihadiri Kadis Lek lanud Iswahyudi, Babinsa Kelurahan Panekan, Perangkat Kelurahan Panekan serta masyarakat sekitar.

Letkol Lek Suwisnu mewakili Danlanud Iswahyudi menyampaikan turut belasungkawa atas meninggalnya Almarhum.

“kami merasa kehilangan seorang prajurit terbaik bangsa, semoga amal ibadah Almarhum diterima disisi Allah SWT dan diampuni segala dosanya”, kata Letkol Lek Suwisnu.

Tidak ketinggalan juga Ahmad Shodiq teman Almarhum juga menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya Serka Slamet Subagiyo.

Ahmad Shodiq menambahkan, Almarhum yang semasa hidupnya dipanggil dengan nama bagiyo itu punya kenangan dengan dirinya.

“Almarhum adalah teman se angkatan saya waktu mendaftar menjadi TNI, waktu itu kita sama-sama mengikuti tes tapi keberuntungan berada pada Almarhum karena beliau lolos seleksi sedangkan saya tidak lolos”, kata Ahmad Shodiq.

Dari keluarga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya  bila ada kesalahan Almarhum semasa hidupnya baik yang sengaja maupun tidak di sengaja.(DR)

LAGI...!! BAYI DIBUANG ORANGTUANYA, KALI INI DI PONOROGO

AENEWS9.COM PONOROGO – Senin (30/1/2017) sekira pukul 04.30 WIB  seorang bayi laki-laki ditemukan Marni (52) di Desa Ngrupit, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, tepatnya di sebuah bengkel mobil Jl. Raya Ponorogo-Madiun.

Marni penemu bayi tersebut mengatakan awal mula dia melihat sesuatu mencurigakan yang di bungkus selimut dan mendengar seperti suara kucing, setelah dicari ternyata sumber suara ada di kursi bengkel yang berjarak 50m dari rumahnya.

Dengan perlahan Marni berusaha membuka selimut dan diapun sontak kaget karena setelah dibuka ternyata isinya bayi. Saat ditemukan oleh Marni, wajah bayi itu agak pucat dan memerah.

Saya tidak tahu siapa orang tua yang tega membuang bayi itu, kata Marni kepada wartawan.
Karena merasa kasihan, Marni pun membawanya pulang untuk memberikan pertolongan. Kemudian setelah itu, Marni langsung melaporkan ke Polisi perihal penemuan bayi malang tersebut dan membawa bayi itu ke Puskesmas Babadan.

Setelah menerima laporan, Petugas dari Polsek Jenangan langsung mendatangi lokasi penemuan untuk dilakukan pemeriksaan.

SEORANG NENEK DI PONOROGO TEWAS KESETRUM PENANAK NASI

AENEWS9.COM PONOROGO – Tersengat listrik penanak nasi, Menik(70) seorang nenek tewas seketika di rumahnya, Sabtu pagi(28/1/2017)

Peristiwa itu pertama kali diketahui Kusnan(42) anak korban. Saat ditemukan, korban tewas dalam posisi berdiri.

Kusnan mengatakan saat itu dia hendak mengambil anaknya yang dirawat korban sedang menangis, ketika itulah dirinya mengetahui ibunya sudah meninggal di depan penanak nasi.

AKP Sudarmanto, Kasubbag Humas Polres Ponorogo menjelaskan, meninggalnya Menik diketahui pertama kali oleh anaknya, Kusnan (42) di dapur. Sebelumnya Kusnan mendengar anaknya yang di rawat Menik sedang menangis.

Berdasarkan hasil Visum dari tim medis Puskesmas Sawoo, korban meninggal karena tersengat listrik dan tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan, tambahnya.

Atas meninggalnya korban, pihak keluarga sudah mengikhlaskan dan bersedia utnuk tidak dilakukan otopsi. Dan jenazah saat ini sudah dimakamkan di pemakaman umum.


LAGI...!! CALO CPNS TERTANGKAP

AENEWS9  MADIUN - Jajaran Polres Madiun berhasil menangkap dua orang PNS yang di duga menjadi calo calon CPNS  di Kabupaten Madiun.

Kasat Reskrim Polres Madiun, AKP Hanif Fatih Wicaksono mengatakan, "saat ini kedua orang yang di duga calo CPNS yaitu M(40) warga Desa Kaibon dan N(63), warga Kecamatan Mejayan masih menjalani pemeriksaan di Mapolres Madiun, salah satu pelaku adalah PNS yang bertugas di Kecamatan Geger.

Hanif menerangkan sampai saat ini pihak kepolisian masih mengidentifikasi ke enam korban penipuan CPNS tersebut. Ada enam korban yang berasal dari wilayah Ngawi dan Madiun.

Dari korban, pelaku menerima penyetoran uang senilai Rp120 juta agar bisa di usahakan diterima menjadi PNS di Kabupaten Madiun.

" Baru tiga orang yang kami mintai keterangan dari enam korban yang teridentifikasi, "terangnya.
 
Modus operandi kedua pelaku, mengiming-imingi bisa memasukkan korban menjadi PNS di lingkungan Pemkab Madiun dan korban harus menyetor sejumlah uang kepada pelaku untuk bisa mulus menjadi PNS.

Seperti diketahui Pemerintah Kabupaten Madiun pada Tahun 2016 dan awal 2017 tidak membuka penerimaan CPNS Umum. Bahkan Bupati Madiun Mbah Tarom mengaku kaget dengan berita di tangkapnya seorang PNS pegawai Kecamatan yang menjdi calo CPNS.

"Saya menerima kabar dari Pak Hery Pramono(Kabag Humas) bahwa ada PNS yang tertangkap menjadi calo PNS, saya menyikapi hal itu, pelaku harus di usut tuntas, ada sanksi tegas pemecatan dari PNS. Saya masih menunggu sampai hari ini hasil pemeriksaan penyidik, ujarnya.(Bm)

BARU BUKA USAHA SIM PALSU, WARGA PONOROGO DIBEKUK POLISI

AENEWS9 MADIUN – Mustakin(46) asal Desa Campursari, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo di tangkap polisi Polres Madiun karena memproduksi Surat Ijin Mengemudi (SIM) palsu.

Awal mula penangkapan dari Ahmad Rosyid yang terjaring razia oleh Satlantas Polres Madiun di wilayah Kecamatan Geger, Rabu (18/1/2017). Setelah dilakukan pengecekan oleh anggota Satlantas, SIM milik Ahmad Rosyid diduga palsu dan setelah itu petugas membawanya ke Polres Madiun guna dilakukan penyidikan.

Menurut penuturan Ahmad Rosyid kepada polisi, dia mendapatkan SIM palsu itu dari Mustakin dengan membayar Rp250.000.

Setelah mendapatkan informasi itu, Polisi kemudian melakukan penangkapan terhadap Mustakin di rumahnya, Kamis(19/1/2017). Barang bukti yang di sita berupa CPU beserta Printer yang di gunakan pelaku untuk mencetak SIM palsu.

Kasatreskrim Polres Madiun AKP Hanif Fatih Wicaksono mengatakan, Mustakin membuka usah pemalsuan SIM ini sejak akhir tahun 2016, dan pelaku memasang tarif pembuatan SIM A maupun C dengan harga Rp250.000.

Masih kata Hanif, bahan SIM yang dipakai pelaku berupa kertas tebal biasa lalu di print serta di laminating. Dan saat dipegang pun sangat terasa beda dengan yang asli, selain itu hologram juga tidak ada dalam SIM buatan pelaku.

Kini pelaku dijerat dengan pasal 263 ayat 1 KUHP tentang pembuatan surat palsu dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara. Sementara Ahmad Rosyid hanya dikenakan wajib lapor.(DR)

MOBIL TAHU BULAT TABRAK CARRY DI UTERAN

AENEWS9 MADIUN – Kecelakaan kembali terjadi di jalur Madiun-Ponorogo tepatnya di Desa Uteran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun antara mobil Pick up tahu bulat nopol Z 8179 HT dengan sebuah mobil Carry nopol AE 1290 FL, Jum’at (27/1/2017).
Wahyudi Sopir Carry menuturkan kecelakaan ini kejadiannya begitu cepat dan mendadak, semula dia dari arah Madiun dengan membawa rombongan menuju selatan untuk pulang ke rumah. Setibanya di lokasi tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil Pick up banting setir ke kanan dan akhirnya tabrakan pun tak bisa di hindari.

Wahyudi menambahkan, setelah mobilnya ditabrak Pick up tiba-tiba dari belakang ada motor yang menabraknya juga.

Akibat kejadian ini, sopir Carry serta tiga penumpang Pick up dan pengendara motor dilarikan ke Rumah Sakit Dolopo karena mengalami luka serius. Selain itu kondisi kedua mobil alami rusak parah di bagian depan.

Salah satu saksi yang enggan menyebutkan namanya mengatakan kecelakaan itu terjadi ketika mobil Pick up tahu bulat sedang menghindari mobil box di depannya yang mengerem mendadak, kemudian spontan mobil Pick up tahu bulat membanting setir ke kanan dan terjadilah tabrakan.

Oleh karena kedua mobil tersebut berada di tengah jalan, arus lalu-lintas Madiun-Ponorogo sempat mengalami kemacetan.(TR)

KABAR ONLINE AENEWS9 KABAR ONLINE AENEWS9 KABAR ONLINE AENEWS9 KABAR ONLINE AENEWS9

INI DIA TANGGAPAN WARGA SANGEN ATAS DISEGELNYA TAMBANG PENCUCIAN PASIR

AENEWS9 MADIUN – Usaha pencucian pasir ilegal di Desa Sangen, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun sudah ditutup oleh petugas gabungan dari instansi terkait Kabupaten Madiun beberapa hari lalu.

Saat tim investigasi AENEWS9 mendatangi dan mengecek lokasi sehari setelah penutupan, ternyata dampak dari usaha ilegal itu sangat luar biasa dan merambah ke mana-mana bahkan sampai ke desa tetangga.

Hal ini di benarkan oleh seorang warga yang mengaku bernama Wiyono yang tiba-tiba menemui tim AENEWS9 di lokasi tambang tersebut.

Dia menceritakan pertambangan ilegal tersebut sudah berjalan sekitar 6 bulan, pemiliknya bernama Ernes warga Desa Sangen.

“ Limbah tambang ini sudah merusak tanaman di sekitar lokasi, bahkan lebih jauh lagi hingga Desa Jogodayuh, Desa Pagotan, dan Sedoro Kaibon yang jauh dari lokasi juga terkena limbahnya, selain itu debu yang dihasilkan juga mengganggu kesehatan warga sekitar ”, kata Wiyono warga Desa Sangen.

Saat ditemui AENEWS9, Ernes pemilik tambang menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang terkena dampak limbah, dia mengaku khilaf serta mengakui kalau tambangnya ilegal. Dan dalam waktu dekat ini dia akan mengurus perijinan untuk melegalkan usaha pencucian pasir miliknya.(tim) KABAR ONLINE AENEWS9 KABAR ONLINE AENEWS9 KABAR ONLINE AENEWS9 KABAR ONLINE AENEWS9

Sejarah Desa Sewulan

KEPALA DESA SEWULAN
aenews9.com, Madiun - Desa Sewulan Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun adalah salah satu desa perdikan pada jaman dahulu.
  
Desa Sewulan juga menyimpan situs sejarah cagar budaya peninggalan Kerajaan Mataram yang masih terjaga dan terawat hingga kini, yaitu Masjid Agung KI AGENG BASYARIYAH.
  
Sejarah berdirinya Desa sewulan itu juga tidak bisa dipisahkan dengan sejarah ketokohan  KYAI AGENG BESARI, Tegal Sari Ponorogo.
   
Menurut Kepala Desa Sewulan, Soekarno, "sejarah Desa Sewulan ini tidak bisa dipisahkan  dengan kebesaran nama KYAI AGENG BESARI Tegalsari Ponorogo dan KYAI AGENG BASYARIYAH. Banyak orang hanya mengenal KYAI AGENG BASARIYAH sebagai pendiri Masjid dan Desa Sewulan.
  
Orang jarang mengetahui nama kecilnya yang di ketahui hanya KYAI AGENG BASARIYAH. Bagus Harun adalah nama beliau, putra dari Adipati Ponorogo, BOGEL KOSAMBI, beliau mempunyai kakak bernama KYAI NURSALIM (Mbah Mantub) yang tak lain adalah mertua dari KYAI AGENG BESARI, dan menjadi guru dari Raden Mas Bagus Harun sendiri.
  
Raden Mas Bagus Harun menimba ilmu di pesantren milik Kyai Ageng Besari Tegalsari Ponorogo.
  
GERBANG SEWULAN
Pada masa itu awal Tahun 1741 terjadi pemberontakan Raden Mas Gerendi ( Sunan Kuning) Pangeran cucu Amangkurat III yang diangkat oleh komunitas Tionghoa yang dipimpin Tai Wan Sui, merebut Keraton Kartasura (geger Pacianan). Pakubuwono II Raja Keraton Kartasura melarikan diri ke Ponorogo berlindung di pesantren Kyai Ageng Besari sekaligus meminta pertolongan dari sang Kyai.
 
Kyai Ageng Besari mengutus murid kinasihnya, Raden Bagus Harun berangkat ke Kartosuro untuk berperang merebut kembali keraton, berkat pertolongan Allah SWT Raden Bagus Harun berhasil mengemban tugas dari sang Guru Kyai Ageng Besari.
 
Setelah Keraton aman Sinuhun Pakubuwono II kembali ke kartosuro, namun keadaan keraton sudah hancur lebur maka keraton di pindah ke daerah Sala (Surokarto).
  
Sekembalinya Sinuhun Pakubuwono II dari Ponorogo, beliau menganugerahi pangkat kepada Raden Bagus Harun, karena Biwara Bhaktinya. Sinuhun mengetahui silsilah Bagus Harun masih keturunan Sutowijoyo, namun Bagus Harun menolak dengan halus karena dia ke keraton mengemban tugas dari gurunya Kyai Ageng Besari.

Sinuhun pun akhirnya menganugerahi pusaka keraton SONGSONG / PAYUNG TUNGGUL NOGO kepada Bagus Harun (perlu di ketahui payung disini bukan payung yang biasa di jual di pasar, namun songsong / payung kerajaan sebagai identitas pemerintahan, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pemberian tanah perdikan, sebagai tanah pemberian raja). Bagus Harun pun kembali ke Tegalsari Ponorogo untuk menghadap kepada gurunya. Pusaka pemberian dari Sinuhun PB II diaturkan kepada gurunya, namun gurunya menolak karena merasa tidak berhak. Dan Bagus Harun lah yang berhak, karena dia yang memadamkan pemberontakan Sunan Kuning.
 
GAPURA MAKAM
Raden Bagus Harun juga enggan menerima pusaka tersebut, karena menurutnya yang berhak adalah gurunya. Akhirnya Kyai Ageng Besari menyuruh Bagus Harun untuk membuang Songsong / Payung Tunggul Nogo tersebut di jembatan Sekayu (sungai besar sebelum masuk Ponorogo) dan konon pusaka tersebut berhenti di Kedung Bang Pluwang, Nglengkong, Sukorejo, Ponorogo.
 
Kemudian Bagus Harun di perintah oleh Kyai Ageng Hasan Besari untuk berjalan menuju utara mengembangkan syiar Islam tidak boleh berhenti sebelum 1000+ (sewu dan lan). Terdapat banyak versi mengenai asal usul nama SEWULAN itu sendiri, ada yang mengatakan sewu wulan (seribu bulan), ada yang mengatakan seribu hari lebih sedikit atau sekitar 2,5 tahun, ada juga yang mengatakan Raden Bagus Harun di beri KEKANCINGAN oleh Pakubuwono II berupa tanah 1000 wuwul / Ha untuk ditempati di jadikan Desa untuk selama-lamanya, di bebaskan dari segala pajak nagari untuk selama-lamanya dan di bebaskan mengatur Desanya dengan menurut hukum yang diterapkan.
 
Pada tahun 1742 Desa Perdikan Sewulan berdiri dengan dipimpin oleh Bagus Harun (Kyai Ageng Basyariyah) beserta keturunannya, dan didirikanlah masjid dan pondok oleh Kyai Ageng Basariyah.

Pembangunan Masjid Agung Sewulan di kerjakan langsung oleh beliau Kyai Ageng Basyariyah dan menantu beliau, (R.Mas Muh Santri / Temenggung Alap-Alap Kuncen, Caruban, Madiun). Sebelum membangun masjid tersebut Kyai Ageng menghendaki posisi bangunan agak keselatan dari pengimamam dengan harapan kelak anak cucu beliau menjadi orang alim dan soleh. Sedang menantunya (R.Muh.Santri) menghendaki letak pengimaman sebelah utara dengan harapan kelak anak cucunya menjadi orang yang terhormat / umaro. Akhirnya terjadi kesepakatan pengimaman masjid berada di tengah seperti yang ada sekarang ini, dengan harapan kelak anak cucunya selain menjadi Ulama juga Umaro.
 
Seperti halnya Presiden Republik Indonesia ke -4 KH.Abdurrahman Wahid (gusdur) dan mantan menteri Agama RI Maftuh Basyuni juga tercatat sebagai keturunan KYai Ageng Basyariyah.
 
MAKAM EYANG BASYARIYAH
Makam Kyai Ageng Basyariyah berada di kompleks Makam Sewulan di belakang Masjid Agung Sewulan, tepatnya di cungkup utama. Makam beliau di apit oleh putrinya (Nyai Muhammad Santri) dan menantunya (Kyai Muhammad Santri). Ketiga makam tersebut di naungi kain warna hijau. Tepat di depan Makam Kyai Ageng Basyariyah terdapat songsong tiga tingkat (songsong tunggul nogo), songsong ini di hiasi dengan sepasang naga di bawahnya.
 
Masih menurut Kepala Desa Sewulan, ciri lain dari Desa Sewulan adalah dulu banyak pengrajin kerajinan dari besi, yang pendirinya Nitikromo dari Jogjakarta dan Nuryo, barang yang di hasilkan adalah alat-alat pertanian. Di Sewulan ini dulu juga hidup seorang Empu bernama Mohammad Slamet keturunan Empu Suro, terangnya.

Kepala Desa Sewulan mengungkapkan, Pimpinan Kepala Desa Perdikan Sewulan hingga tahun 1963 sebagai berikut : (1) R.Mas Bagus Harun (kyai Ageng Basyariyah / Ki Ageng Sewulan I), (2) R.Mas Maklum Ulama, (3) R.Mas Mustaram I, (4) R.Mas Mustaram II,  (5)R.Mas Rawan, (6)R.Wiryo Ulomo, (7)R.Mas Ichwan Ali (Kyai Ageng Sewulan VII).

Setelah Tahun 1963, semua Desa Perdikan di Indonesia dihapus dan diganti menjadi Desa Swasembada termasuk Sewulan. Sejak menjadi Desa Swasembada, Sewulan memiliki kepemimpinan yang di pilih oleh rakyat. Adapun Kepala Desa yang pernah menjabat di Desa Sewulan adalah (1) Hardjomoen, (2) Badjoeri, (3) Maulana, (4) Moch.Syamsuri, (5) Khoirul Umur, (6) Moh.Agus Alim, (7) H.Sukarno (menjabat sekarang)

Masih ungkapnya, "tahun 2004 melalui Pemerintah Daerah Kabupaten Madiun menetapkan Situs Perdikan Sewulan menjadi cagar budaya situs Islam tertua di Madiun.

Namun sangat di sayangkan pihak Pemkab Madiun kurang mendukung serta memperhatikan untuk pengembangkan Keberadaan Situs Sewulan.

Harapannya tidak hanya nama situs Basyariyah atau Desa Sewulan yang terangkat namun perekonomian Masyarakat Sewulan khususnya, padahal di lokasi situs Sewulan telah menjadi agenda rutin Tahunan antara lain Jamas Pusoko di bulan Syuro dan Grebek Maulid.(in)

BISNIS LANGKA DI JAMAN SERBA ADA

AENEWS9 MAGETAN – Usaha jual beli sekaligus reparasi lampu bekas yang dijalankan Sarju (48) warga RT 19/8 Desa Karangrejo Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan ini tergolong unik dan langka. Karena bagi sebagian orang usaha ini dipandang sebagai usaha yang tidak terlalu penting.

Tapi Sarju kali ini pandai membaca peluang karena baginya usaha ini adalah usaha yang banyak dibutuhkan orang dan bahkan menjadi kebutuhan pokok.

Usaha yang ditekuninya sejak dua tahun silam ini mampu untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari bagi dua anak dan seorang istri. Selain itu dia(Sarju-red) juga mampu membiayai kebutuhan mertua dan saudaranya yang sudah lanjut usia.

Kepada AENEWS9 Sarju mengatakan mendapatkan ilmu mereparasi lampu secara otodidak yaitu dengan melihat orang lain yang sedang mereparasi lampu juga.

Sarju juga menceritakan omset rata-rata perhari bisa mencapai Rp 200.000 dan kebanyakan pelanggan berasal dari tetangganya sendiri serta orang yang melintas di jalan depan rumahnya yang kebetulan berada di jalan raya Goranggareng-Maospati.

Masih menurut Sarju usahanya ini mengalami kendala hanya pada waktu hujan turun karena dengan kondisi hujan secara otomatis pembeli enggan datang untuk membeli barang dagangannya.
Salah satu trik Sarju dalam mengikat pelanggan yakni memberikan garansi di setiap lampu yang di jualnya.

Dalam menjalankan usaha yang terpenting adalah sikap kejujuran dan menciptakan kepercayaan terhadap konsumen. Jika sikap itu telah diterapkan maka kita bisa mendapatkan sebuah kesuksesan yang sebenarnya.(DIK)

KABAR ONLINE AENEWS9 KABAR ONLINE AENEWS9 KABAR ONLINE AENEWS9 KABAR ONLINE AENEWS9

BYUUUH....!! PASAR PAGOTAN SEMRAWUT..

AENEWS9 MADIUN-Masalah klasik, semrawutnya pasar tradisional tampaknya menjadi pekerjaan rumah (PR) yang sulit di urai. Seperti misalnya pasar tradisional Pagotan, pasar yang terletak di jalur Madiun-Ponorogo yang tepatnya di Desa Uteran Kecamatan Geger Kabupaten Madiun ini tampak semrawut dan kumuh, itulah gambaran yang terlihat pertama kali jika melintasnya.
  

Kesemrawutan ini terlihat jika pas jam aktifitas pasar di mulai sejak pagi hari. Sejumlah pengunjung mengeluh lantaran minimnya petugas yang mengatur lalulintas di kompleks pasar tersebut.
  
Banyaknya kendaraan pengangkut barang yang memarkir kendaraannya di bahu kanan kiri jalan yang terbilang sempit, belum lagi dengan area parkir yang  mepet ke jalan raya di tambah dengan dokar dan becak motor yang  parkir sambil menunggu penumpang, menambah keruwetan dan kumuh pasar.    
  
Belum lagi polusi yang di hasilkan dari dokar yaitu air seni kuda yang jatuh berceceran di sana sini menimbulkan bau yang tidak sedap.
  
Ironisnya pengunjung maupun pedagang di pasar tersebut cenderung acuh melihat kondisi itu. Mereka mengaku terbiasa dengan bau tidak sedap di sekitar tempat mereka berjualan. Apalagi kendaraan terparkir menyemut di tempat para pedagang berjualan.
  
Keluhan juga banyak di sampaikan pedagang pasar, namun tidak segera ada tanggapan dari pihak pasar, untuk segera melakukan tindakan mengelola pasar Pagotan, setidaknya tidak kumuh.
  
Sementara kepala Pasar Pagotan Sugeng, saat di temui, tidak bisa berbuat apa-apa, karena kewenangan atas kesemerawutan parkir angkutan di wilayahnya adalah tanggung jawab dari DINAS LAJR. "Saya sering mengingatkan kepada petugas agar bisa merapikan parkir kendaraan yang bongkar muat barang, namun tidak di gubris, terangnya.
  
Masih menurutnya kondisi Pasar Pagotan sudah harus di renovasi Pemkab, mengingat lahan yang sempit dan semakin banyaknya pedagang yang berjualan hingga di luar area pasar.(in)

Sejarah Desa Uteran

Kepala Desa Uteran

MADIUN (aenews9.com) -.Berbicara mengenai asal nama Desa Uteran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, tidak bisa dilepaskan dari jaman pra sejarah sampai jaman penjajahan.

Desa Uteran yang masuk dalam wilayah Kabupaten Madiun, sudah didiami suatu masyarakat yang mempunyai peradaban yang tinggi. Dikarenakan Madiun merupakan wilayah yang subur, banyak dialiri sungai besar dan kecil seperti Bengawan Madiun, Kali Gandong, Kali Catur dan lainnya.
  
Hal ini telah dibuktikan dengan pernah diketemukan Artefak benda bersejarah di Desa Uteran, yaitu Prasasti Mruwak, di Desa Mruwak, Kecamatan Dagangan, Batu Lingga di Desa Sangen, Kecamatan Geger, Situs Ngurawan di Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Batu Lesung berangka 249, dan Arca Durga berangka tahun 1338 tahun Saka (kedua benda tersebut berada di musium Gajah, Jakarta).

Geogarafis Desa Uteran yang tidak memiliki pegunungan dan sebagian besar dataran rendah, letak Desa Uteran diantara empat (4) Desa lain dengan ketinggian 220m diatas permukaan laut. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Nglandung, sebelah timur berbatasan dengan Desa Dagangan, sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pagotan, dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Jatisari.
    
Melihat Geografis Desa Uteran yang seperti itu, Penjajah Belanda ingin mendirikan perkebunan atau pengelolaan hasil perkebunan, pada tahun 1884 NV COOY COOSTERN VAN VOORH, mendirikan Pabrik Gula Pagotan di utara Desa Uteran.

Lokasi yang memenuhi syarat untuk sebuah pabrik, karena terletak di tepi jalan yang dapat memudahkan pengangkutan bahan baku produksi. Selain itu lokasinya yang bersebelahan dengan sungai dipakai untuk kegiatan pabrik.

Kepala Desa Uteran, SURYONO, S.H. mengatakan, menurut cerita pitutur pini sepuh dahulu, ada seorang yang bernama EYANG MARSANGIT, tidak diketahui siapa beliau tersebut, apakah seorang bangsawan kerajaan, penyebar agama atau prajurit kerajaan. Eyang MARSANGIT berhasil membuka hutan untuk dijadikan pemukiman serta mendirikan pemerintahan desa pada tahun 1789. Beliau menjabat pemimpin Desa tersebut selama kurun waktu 70 tahun lamanya. Beliau wafat dan dimakamkan di areal Masjid Jami' kompleks pondok MMA Uteran.

Masih menurut Kepala Desa Uteran, sejarah yang diceritakan para pini sepuh, bahwa saat laskar Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan terhadap tentara kompeni Belanda, laskar Diponegoro menggunakan strategi berkeliling (muter-muter bahasa jawa) maka Desa tersebut dinamakan Uteran, Belanda mengetahui strategi laskar Diponegoro tersebut yang berputar-putar /berkelilimg, Belanda menggempur dengan kekuatan lebih kuat lagi dan terjadilah pertempuran yang dahsyat.

Pasukan Diponegoro kocar-kacir digempur pasukan Belanda yang dipimpin Capitan Zaaz hingga bergulingan kearah barat dan akhirnya selamat. Daerah tersebut dinamakan GULINGAN (asal kata ngguling-ngguling) yang menjadi wilayah Desa Uteran saat ini.

Ditambahkan SURYONO, S.H. pada masa tersebut ada seorang sesepuh yang bernama Eyang MAKHALI, yang diperintahkan oleh Sri Sultan Mangkubumi I, dari keraton Ngayokjokarto Hadiningrat, untuk membentuk wilayah Onderan (kecamatan) di Wilayah Madiun Selatan yaitu Geger, Kebonsari, Dolopo, Dagangan.

Setelah terbentuk 4 (empat) wilayah tersebut, Eyang MAKHALI diangkat menjadi WEDONO (pembatu Bupati) di wilayah itu.
  
Periodesasi silsilah Pemerintah Desa Uteran sendiri sudah dipimpin enam belas (16) Bekel/Kepala Desa, yaitu:

1.   Eyang MARSANGIT Tahun 1789 - 1859
2.   Eyang MURDOKO Tahun 1859 - 1884
3.   Eyang WARDOYO Tahun 1884 - 1887
4.   Eyang NGALEREDJO Tahun1887 - 1890
5.   Eyang MUSTAHAL Tahun 1890 - 1891
6.   Eyang NGALIMUNDO Tahun 1891 - 1904
7.   Eyang MUSKAHAR Tahun 1904 - 1911
8.   Eyang DIKIN Tahun 1911 - 1914
9.   Eyang SONTO Tahun 1914 - 1921
10. Eyang SOIDJOJO Tahun 1921 - 1922
11. Eyang IMAM REDJO Tahun 1922 - 1940
12. Eyang MARTO ASIIR Tahun 1940 - 1968
13. Bapak SOEPARMAN Tahun 1968 - 1990
14. Bapak SAMUDJI Tahun 1990 - 1998
15. Bapak LATIEF Tahun 1998 - 2008
16. Bapak SURYONO, S.H. Tahun 2008 sampai sekaramg.

Penulis : Zainul Mursidin
 
MEDIA GROUP